Jumat, 21 Juli 2023

Belajar jadi MC dan Moderator

 Pekan lalu aku mengikuti kelas daring yang benar-benar mengasyikkan. Kenapa kusebut demikian ? Karena selama kelas berlangsung, aku dan peserta lain merasa asyik, istilahnya 'nggak berasa' mungkin ya, eh tahu-tahu kelas sudah berakhir. Pasti kalian penasaran kaan ? Yang aku ikuti adalah kelasnya Easy to Speak / Etos. Namanya sudah mewakili sekali kan ya..


Kelas kali ini bertajuk Are You Ready to be The Next MC & Moderator ? Dari judulnya aja udah fokus banget ya.. Siap nggak nih menjadi MC atau master ceremony atau biasa dibilang pembawa acara. Sama jadi moderator.

Dua hal ini sebenarnya nggak jauh-jauh dari kehidupan kita dalam bermasyarakat.  Sering misalnya pertemuan ibu-ibu baik itu arisan atau pengajian, butuh seorang MC. Terus seringnya ibu ibu saling tunjuk, siapa yang jadi pembawa acara. Di satu sisi kadang digilir, eh tiba gilirannya panas dingin karena grogi nggak biasa bicara di depan orang banyak.  Ya.. begitulah kurang lebih emak life..


Nara sumber acara kali ini adalah kang Purwa dan Kang Wildan Tauhid. Duet antara keduanya terlihat kompak sekali dan benar-benar sudah ada chemistry.  Ketika kang Purwa bicara, Kang Wildan memilihkan musik pengiringnya. Ketika kang Purwa melempar tanya, kang Wildan dapat menjawab dengan begitu nyambungnya. Asyik deh pokoknya. Dari percakapan mereka aja banyak sekali pelajaran terkait menjadi MC dan Moderator ini.


Apa sih bedanya MC dengan Moderator ?

Namanya pembawa acara ya memandu acara ya.. dari mulai pembukaan, hingga mengantarkan pendengar /peserta ke acara demi acara sampai menutup acara tsb. Sedangkan seorang moderator bertugas memandu topik, memancing tanya atas topik tersebut, mengantarkan pembicara menyampaikan materi dan di akhir acara moderator membuat ringkasan / kesimpulan acara tsb.

Kemudian kalau pembawa acara itu tugasnya menghidupkan acara, bagaiimana mengerti audience, mengisi waktu luang bila ada keterlambatan pembicara dsb, maka seorang moderator itu menghidupkan acaranya dengan seni bertanya. Bagaimana moderator dapat berperan 'mewakili' audience yang tidak tahu tentang topik tsb,, atau bisa juga moderator itu memancing pembicara untuk menjelaskan lebih. Biasanya seorang moderator itu dipilih dari yang berlatar belakang sama dengan pembicara.

Di akhir acara, MC memberikan kesan dengan quote singkat atau pantun makan seorang moderator memberi kesannya dengan memperkaya konten dan diksi.


Satu hal yang aku dapatkan juga disini bagaimana agar suara kita itu bernyawa, ada ruhnya.. yaitu menghadirkan hati saat bicara. Misal di awal membaca basmalah dan salam, maka usahakan melakukan ini dengan khusyu'/fokus memang berdoa.

Ada juga istilah power voice dan smiling voice. Smiling ovoice itu kurang lebih artinya  bicara sambil tersenyum ya.. bukan dengan muka masam. Kalau power voice itu ada penekanan saat mengeluarkannya, bertenaga. Berikan energi di setiap kata.. Hadirkan diri kita di situ. Jangan hanya membacakan susunan acara, tetapi juga memperkaya dengan improvisasi, agar kata-katanya nggak itu itu saja. seperti ..menginjak acara berikutnya... nah ini nggak boleh ya..  


Nah kayaknya ini dulu catatanku soal kelas yang aku ikuti ya... semoga ada secuil manfaat yang didapat. 

Rabu, 19 Juli 2023

Bersih dan Sehat, Mulai dari Mana ?

Personal Hygiene memang istilah baru buatku. Tetapi setelah aku membaca berbagai sumber ternyata itu bukanlah hal baru. Personal hygiene gampangnya adalah bagaimana aku memelihara kesehatan dan kebersihanku sendiri. Bisa dikatakan adalah bagaimana keseharian kita dalam memperhatikan hal halyang terkait dengan kesehatan dan kebersihan.

Kalau ngobrolin itu, sebagai orang awam, tentunya personal hygiene ini tidak terlepas dari kebiasaan keluarga. Bagaimana dulu bapak dan Ibu membentukku, mengajariku dan memberikan teladan, itulah yang aku ketahui sekarang. Kalau secara standar, sebenarnya yang diajarkan kedua orang tua jaman dulu sudah memenuhi standar ya.. Kebetulah Ibu pernah sekolah perawat walaupun tidak sampai lulus karena keburu pindah sekolah karena Simbah ingin ibu menjadi seorang guru.


Kebiasaan keluarga yang ditanamkan dulu :

- Mandi dan ganti baju dua kali sehari, pagi dan sore

- keluar rumah harus pakai sandal, sekolah pakai sepatu (hihi ini setting tahun 80an ya, di mana anak sekolah aja masih ada yang nyeker)

- cuci kaki sebelum naik ke kasur baik tidur siang atau tidur malam

- gosok gigi sebelum tidur dan bangun tidur minimal cuci muka

- gelas dan makanan selalu ditutup

- nggak boleh jajan sembarangan/jajan yang makanannya terbuka dan dikerubungin lalat, Bapak mencontohkan, selalu jajan makan yang terbungkus, seperti nagasari, arem-arem, bugis, dll nggak pernah jajan yang makanan tidak terbungkus yang cara meladeninya dipegang-pegang pakai tangan. :D

- membersihkan tempat tidur sebelum tidur dan merapikan lagi dipagi hari

- Baju kotor dicuci setiap hari

- Mencuci piring sehari 3x setelah makan pagi,makan siang, dan makan malam

- mencuci rambut/keramas minimal banget seminggu sekali. 

- Bapak melarang anak-anak mandi di kali  (bayangin hampir semua anak di kampung suka mandi di kali, dan kita gak boleh, hiks)

- Mempunyai sarana MCK sendiri untuk sekeluarga ( di kampung banyak yang yang masih share tempat MCK dan jambannya pun masih ada yang cemplung langsung gitu)

- Makan sehari 3x dengan komposisi nasi-lauk-sayur. 

- Anak-anak mendapat tugas siapa yang ngepel siapa menyapu rumah, siapa menyapu halaman rumah.

- Menjemur kasur di hari libur.

- tidak bertukar handuk dan sikat gigi.

- Membuang sampah pada tempat sampah. Dulu di dapur ada tempat sampah, nanti pagi dan sore dibuang ke lubang sampah yang kalau penuh diurug tanah. Etapi dulu itu jarang sekali sampah plastik. Semua jajanan dibungkus daun, dan kalau belanja kita bawa keranjang belanja.


Itu beberapa hal yang aku ingat dari masa kecil yang selalu dibiasakan oleh orang tua. Tetapi ada satu kisah lucu, entah pas aku duduk di kelas berapa, waktu itu aku lihat temanku mencari kutu dari kepalanya, dan "mithes" (menekan telur kutu dengan kuku ibu jari), aku pikir itu asyik sekali.. aku ambil dong satu kutu dan ku letakkan di kepalaku. walhasil seisi rumah semua jadi kutuan. Aku dan kedua adik perempuanku. Cukup panjang perjalanan membasmi kutu rambut ini. Sepertinya sampai aku SMP baru hilang bersih karena aku mulai memasuki usia puber, malu kalau ketahuan kutuan dan rambutnya berhias 'permata' telur kutu. 

Tapi soal kutu ini ternyata di anak-anakku juga terjadi, tanpa mereka 'memelihara kutu' seperti yang aku lakukan di waktu kecil, eh mereka tertular juga. Waktu itu dari ART yang berambut panjang dan terlihat kutu satu dua berjalan jalan di rambutnya. 


Setelah aku cukup dewasa dan belajar agama, ternyata soal kebersihan ini diajarkan di awal sekali. Kalau buka buku Fiqh maka bab awal awal adalah tentang Thoharoh/bersuci. Menurut pemahamanku yang dangkal, ini berarti memang Islam sangat mengutamakan kebersihan bahkan lebih tinggi lagi kesucian / bersih luar dalam, bersih secara harfiah dan secara makna.


Diantara pelajaran bersuci ada yang namanya sunah sunah fitrah/sunah yang paling mendasar yang harus dilakukan terkait personal hygiene :

Artinya: "(Sunnah) fitrah ada lima, yaitu: khitan, mencukur bulu kemaluan, mencukur bulu ketiak, memendekkan kumis, dan memotong kuku." (HR Bukhari dan Muslim).


Tentunya ini berlaku untuk laki - laki dan perempuan ya.. Dan kalau belajar Fiqh masih banyak yang dibahas di bab thoharoh ini ya.. bagaimana cara bersuci dari hadas kecil dan hadas besar, bagaimana cara mensucikan dari najis, dsb Dibahas sangat rinci.


Bagaimana menanamkan personal hygiene ke anak-anak ?

Dulu, aku mungkin hanya melihat kebiasaan Bapak, Ibu dan kakak-kakak udah nyante ya.. skrg gantian anak-anakku, mereka melihat yang dilakukan oleh bapak-ibunya, itulah yang mereka terapkan saat dewasa.


Sabtu, 15 Juli 2023

Daur Ulang Sampah, Bisakah Kita ?

Menurut id.wikipedia.org, hierarki sampah sampah menujuk pada 3R, yaitu Reuse , Reduce, dan Recycle yang mengklasifikasikan strategi manajemen sampah menurut apa yang sesuai. 

Reuse : menggunakan kembali

Reduce : mengurangi

Recycle : mengolah kembali 

Dimulai dari reduce / mengurangi terjadinya sampah. kemudian menggunakan kembali barang yang masih dapat digunakan, hingga mengolah kembali atau biasa disebut daur ulang.

Masih dari id.wikipedia.org Daur ulang adalah proses untuk menjadikan suatu bahan bekas menjadi bahan baru dengan tujuan mencegah adanya sampah yang sebenarnya dapat menjadi sesuatu yang berguna, mengurangi penggunaan bahan baku yang baru, mengurangi penggunaan energi, mengurangi polusi, kerusakan lahan, dan emisi gas rumah kaca jika dibandingkan dengan proses pembuatan barang baru.

Waduh .. serius banget ya.. Ya memang seserius itu masalah sampah di bumi ini. Mungkin hal kecil yang kita anggap biasa saja, ternyata memberikan andil besar dalam memperbanyak jumlah sampah. Kalau di Kota Bandung, gencar disosialisasikan istilah Kang Pisman. Kang Pisman adalah singkatan dari Kurangi Sampah, Pisahkan Sampah, dan Manfaatkan kembali sampah. 

Kurangi sampah ? gimana caranya ? Nggak kebayang kali ya.. 

Contoh paling mudah adalah menghabiskan makanan. iyap. karena makanan sisa akan menjadi sampah. Kemudian membawa minum sendiri / mengurangi jajanan yang menggunakan kemasan sekali pakai itu juga sudah mengurangi sampah. Membawa kantong belanja sendiri, mengurangi pemakaian tissu itu juga sudah mengurangi sampah.

Kemudian memisahkan sampah. Secara mudah, pemisahan metode kang pisman ini hanya ada 3 kategori, yaitu sampah sisa makanaan dan tumbuhan, yang kedua sampah plastik, kertas, kaleng, kemudian kategori ketiga selain itu.  

Nah memanfaatkan kembalinya merujuk pada 3 kategori di atas. Sampah pertama berupa sisa makanan dan daun itu diolah jadi kompos. Kemudian kategori kedua disumbangkan ke bank sampah, baru kategori ketiga diangkut ke TPA /tempat pembuangan akhir untuk dikelola Dinas Kebersihan.

Apa yang dapat kita lakukan ?

Banyak. Sebagai seorang Ibu, kita kan menyiapkan bahan makanan di rumah ya.. usahakan makanan yang kita siapkan nggak berlebih. Karena kalau makanan berlebih, nggak kemakan, jatohnya jadi sampah. Di sini juga seorang ibu biasanya akan banyak ide untuk mengelola makanan yang tidak habis untuk dimanfaatkan. Anak-anak sering meledek Umi mendaur ulang makanan.  Hehe ternyata kalau merujuk definisi wikipedia masih masuk ya.. mengurangi penggunaan bahan baku baru.

Nasi sisa misalnya, menjadi nasi goreng mungkin biasa. Maka aku mengolah menjadi nasi kuning (cukup tambahkan bumbu gulai siap pakai) atau mengolah menjadi nasi uduk ungu (tambahkan ubi ungu yang dihancurkan dan santan) atau menjadi bubur ayam  kalau pas waktunya agak panjang.  Capcay rebus nggak habis ? tinggal masukkan mie dan kecap, jadilah mie goreng nyemek. dsb  

Daur ulang lain yang kulakukan adalah memanfaatkan kain perca menjadi selimut/karpet lantai. Memang ini agak perlu waktu mengerjakannya. akupun mengerjakan sambil sambilan hitung hitung menjadi me time ya.. 

Kalau sampah dapur, pernah mencoba membuat kompos. tapi semangatnya naik turun hehe.. Kebetulan pekan lalu mengikuti acara Pamisah (Pawon Minim sampah) yang diselenggarakan oleh Sejuta Cinta Bandung, jadi semangat lagi, bismillah.  Dan akupun menjadikan masalah sampah ini sebagai salah satu masalah di jenjang BunSal#2 yang sedang aku ikuti.

Itu sekelumit ceritaku tentang daur ulang sampah.. Kamu punya cerita juga ?